Jumat, 11 Januari 2013

Aku pulang, dengan PR yang menumpuk




Kadang aku iri dengan anak-anak yang berlarian pulang sekolah, bercengkrama dengan teman-temannya menuju rumah tanpa takut ditanyai nilai ulangan oleh ibunya. Terkadang aku juga takut menuju rumah, kembali dari petualangan mencari kebahagiaan.

Tapi terkadang apa yang kucari selama ini diluar sana ada didalam rumah. Kita bisa saja menyeduh kopi itu sendiri dirumah. Duduk ditemani hujan, lalu merayakannya. Itulah, terkadang kita ingin mencari suasananya. Bukan hanya sekedar duduk termenung menyendiri mengingat masa lalu yang mencolek ingin disapa.

Jumat, 04 Januari 2013

BEBAS !



Hai apa kabar kamu disana? Masih betah bersembunyi? Padahal saya sudah bosan mencarimu loh. Sudah lama saya akhiri permainan petak kumpet dari tahun kemarin. Sekarang kau bebas untuk menampakkan diri, bagai pelangi yang secara natural muncul pasca hujan lebat disore hari kemarin lusa. Bahkan saya sudah banyak meneguk kopi kekalahan. Menantikan hari dimana rasa dendam hilang tiap teguknya. Nyaris ku gigit bibir cangkir itu. Seraya menggerutu menerima takdir tak bisa menggigit gemas bibirmu (lagi).

Harus saya akui jujur disini, saya terima kekalahan perang dingin itu. Merelakan harta dirampas. Maklum kamu semacam harta rampasan perang. Baginya kau begitu spesial, bagai lempengan emas yang dulu menghiasi pakaian perangku. Tapi bagiku kamu biasa saja, tidak jauh halnya dengan lempengan kuningan. Banyak menipu.

Silahkan umbar, saya sih berdoa aja supaya jalan lurus menyertai. Untuk saya, masih banyak kan lahan kosong yang ingin didiami hatinya? Yang mau mewarnai jiwaku? Saya sih yakin. Iya yakin seyakin yakinnya!

Maaf sedikit vulgar, ini sekalian biar kamu tau. Saya sih senang keluar dari semacam penjara batin yang dulu sempet mengurung. Sedikit terbatas ruang gerak, hanya waktu makan saja yang bisa buat lupa. Toh selera makan saya makin lahap sekarang setelah keluar. BEBAS! fufufu