Kepada bapak-bapak yang
wajahnya sering saya jumpai di sepanjang jalan. Doa saya untuk anda-anda
semua, terlebih dengan niat baik kalian semua. Sungguh naif rasanya
jika saya benci kalian. Kenal saja tidak, apalagi ngobrol, apalagi
semeja bareng sambil ngopi-ngopi di kafe. Tapi kok ya saya agak risih
ya, pak. Wajah anda-anda di baliho itu sebenernya ndak masalah, tapi
kalo liat baliho-baliho yang (sengaja/tidak sengaja) tersobek itu malah
jadi pemandangan yang ndak enak dipandang mata.
Saya termasuk
dalam kategori, swing voter (jika bapak-bapak tidak tahu, coba tanyakan
kepada ketua tim sukses masing-masing). Saya memilih jika saya sudah
yakin dengan anda, baik kinerja atau latar belakang. Bukan dengan
campaign-campaign hitam atau dengan uang. Maap ini, uang lima puluh ribu
bagi saya memang besar, tapi lima puluh ribumu untuk lima tahunmu?
Sudah gila?
Tidak dipungkiri, sebesar apapun pengaruh saya kepada
orang banyak, saya hanya memiliki satu suara di bilik TPS nanti. Tapi
bayangkan jika ada 1000 orang di sini yang berpikiran sama seperti saya?
Lumayan bos! Maap, agak esmosi. Ehe-ehe.
Cara-cara seperti menebar
banyak poster senyum bias di jalan atau mengundang orang datang ke rumah
untuk makan bersama itu sudah "so yesterday" kalo kata anak kekinian
yang suka nongkrong sambil wifian. Coba dong cara yang lebih segar,
penasehat politik anda-anda sekalian pasti paham betul dengan ini
harusnya.
Ibarat anda-anda ingin mendapat ikan, cara lama
seperti menggunakan pancing atau jala memang efektif, sempat berfikir
gak sih? ikan-ikan jaman sekarang itu sudah pinter-pinter lho, pak.
Apalagi kalo yang mancing banyak, ya ikannya udah keilangan napsu makan
umpan duluan. Apalagi kita semua tau, orang mancing sekarang kebanyakan
cuma buat iseng, udah dapet ikan, difoto, trus dilepas lagi. Mantap!
Coba dong bapak-bapak sekalian lebih peka, apa coba perasaan ikannya?
Belum pernah diPHPin, ya? Sakit pak. Maap, saya malah curcol, boleh saya
lanjutkan? Coba dong cara yang lebih anti mainstream.
Ikan
jaman sekarang itu easy going, friendly gitu lah pak. Coba deh sesekali
bapak jebur kolam/empang untuk ngobrol sama ikan-ikan. Tanya, kurang gak
pakannya, bosen gak diumpanin pelet trus, gitu. Pasti bapak berfikiran
saya sudah gila, hey tidak ada manusia yang waras sekarang, hidup ini
sudah terlalu tidak rasional. Dan jika anda beranggapan sinting amat
sampe jebur kolam, lah ini cara yang tidak biasa toh? Saya cuma berusaha
memberi masukan.
Setelah itu pasti anda sekalian bilang, "Ah anda anak muda, suka bercanda! Kenapa anda tidak ikut nyalon pilkada saja?" Hehe.
Gini lho, bapak-bapak sekalian. Maap lagi sebelumnya. Pertama, saya
tidak biasa nyuruh orang lain untuk hal yang bisa saya kerjakan sendiri,
lagian saya gak bisa dikawal-kawal. Kurang 'wus-wus' kerjanya malahan.
Gitu.
Kedua, saya tidak biasa bekerja secara kontrak, lima tahun. Tidak perlu saya jelaskan lagi, kita semua tahu.
Ketiga, saya harus berkeluarga atau mempunyai istri terlebih dulu agar
bisa mencalonkan diri. Lah, ini aja abis ditinggal kawin. Belum sih,
tapi bentar lagi, hiks. Bapak-bapak punya anak gadis? Atau ponakan
perempuan yang kinyis-kinyis mengkel siap unduh? Rekomendasiin saya bisa
kali. Siapa tahu, kan? Jodoh gak ada yang tau. Ehe-ehe.
Semoga
surat terbuka saya ini bisa terbaca oleh salah satu diantara kalian.
Jika berkenan dan ada waktu senggang bisa kali kita ngopi-ngopi santai.
Ajakan ngopi ini serius lho bapak-bapak, kita bisa ngobrol apapun,
politik, sosial, lifestyle, bola, musik rock sampe daleman isi rok.
Sebenarnya surat ini belum selesai saya tulis, cuma mood nulis saya
tiba-tiba hilang. Lain waktu saya lanjutkan lagi, tapi ndak janji ya.
Mungkin bapak-bapak lebih paham prihal janji dan bagaimana rasanya jika
janji tak tertepati.