Rabu, 21 Oktober 2015

Bermainlah Pada Tempatnya

Hallo bapak-bapak pengurus Masjid, terima kasih sudah mengingatkan kami semua bahwa bukan hanya sampah yang harus pada tempatnya tapi juga bermain. Hampir saja kami semua abai dan gak sadar bahwa kami sebenarnya main bukan pada tempatnya. Subhanallah, semoga dengan ini bapak-bapak pengurus diberi ganjaran sudah mengingatkan oleh Allah SWT. Amin YRA.

Memang segala sesuatu harus ditempatkan pada tempatnya, bapak. Piring di rak, maling di penjara, mantan di galian kubur, eh. Main pun harus pada tempatnya yo ndak? Mana boleh main di kelas saat dosen lagi ngajar? Atau mana boleh main-main dengan perasaan perempuan yang sudah A1 pasti nerima jika ditembak? Jangan sok ganteng syukur ada yang mau.

Sebelumnya ada kalimat: Hormati masjid kita. Subhanallah lagi bapak, lagi-lagi aku serasa kayak ditampol e. Ternyata kami semua lupa, kami tidak menghormati masjid kita. Tapi maaf bener ini bapak, ma'aaaf bener. Yang minta dihormati itu bangunannya atau bapak-bapak sekalian? Maaf lagi, Kalo pun bapak-bapak yang minta dihormati agak gimana e. Situ tiang bendera minta dihormati? Hidup lah Endonesa raya~

Permasalahan ini gak njelimet-njelimet amat kok. Cuma karena anak skateboard dan BMX main di halaman masjid. Kan kita semua tau, skateboard dan BMX itu kan yang buat paping halaman masjid pecah. Satu hal bapak ini pembelaan, kami ini cuma mau ngetes ceritanya, kuat apa gak tuh paping untuk main, kalo gak kuat berarti ada yang salah dengan proyek pengerjaannya. Roda sketbot berdiameter kurang dari 5 CM kok bisa buat paping pecah. Lagian jika kita mencari kambing hitam di masalah ini, gak akan ada habisnya. Si A nyalain B, si B nyalahin C, gitu terus sampe Metro dipimpin sama walikota yang bener.

Kami tidak mempersoalkan itu. Kami cuma minim support Pemerintah tapi tetap berprestasi. Gimana coba kalo disupport? Yasudah lah sudah jadi nasib kami, diabaikan di kampung sendiri namun diapresiasi di luar. Kami ikhlas bin ridho bila skateboard dan BMX dilarang untuk main, tapi gak ikhlas jika sepatu roda masih diperbolehkan main di sana. Pilih-pilih tebu itu namanya.

Tentu itu bukan tanggung jawab bapak-bapak pengurus untuk mikirin kami, ada yang berwenang. Cuma semua sama saja, selalu mengabaikan. Lagian kami ini siapa lho, cuma kumpulan pemuda yang gak ada kerjaan lain di sore hari. Toh ngapain juga ngurusi hal gak penting macam ini, pasar pagi yang lebih njelimet permasalahnya gak selesai-selesai.