Saya merasa iri kepada sepasang kekasih yang dipisahkan jarak saling mengumbarkan kasih sayang, cinta dan harapan. Tak lupa juga mereka menyelingi nya dengan candaan, gurauan dan humor. Garing sebenarnya tapi begitu asik dimata saya. Saya tidak pernah merasa terganggu dengan keberadaan mereka di Timeline saya. Mungkin disaat larut malam seperti ini lah mereka menyiasatinya dengan meluangkan waktu nya untuk sekedar membahas harinya tadi. Dan saya memaklumi itu. Sungguh syahdu, semoga mimpi mempertemukan mereka. Sungguh ku merasa iri.
Kamis, 28 Maret 2013
Rabu, 27 Maret 2013
Melupakanmu
Mengingatmu malam ini
bukanlah obat tidur yang mempercepatku terlelap
Tapi..
Mengingatmu malam ini
adalah kopi hitam paling pahit
Maaf aku tak bisa mengingatmu terlalu lama, kamu adalah sumber kelelahanku, aku harus mempercepat waktu tidur dan segera melupakanmu.
Sabtu, 23 Maret 2013
Aku (pura-pura) Tidak Tahu Judul Puisi Ini
Menari-nari melukis langit
Entah apa yang terjadi
Irigasi nadi ku mengering
Gagal memanen bahagia
Asap tebal menyelimuti pemantang
Rasanya luka, tak kunjung padam
Aku bukan petani dihidupmu
Namun bagiku kamu
Irama riuh nyanyian burung bersautan
Jumat, 22 Maret 2013
Kata Hati #TulisPuisi
Sama dengan mengarungin luas hatimu.
Dan aku tak bisa berenang.
Ikan hiu disekeliling.
Menanti tubuh biru.
Ngambang dan kembung.
Kubutuh nafas buatan.
Dari sombong bibirmu.
Yang terus saja menyindirnya.
Semacam kode tak terbalas.
Kasihan duhai sayang.
Seperti kau silet kulit ari ku.
Lalu kau tetesi garam lautan.
Pedih duhai sayang.
Ada yang lebih pedih dari ini?
Ada?
Oh kau tak menjawab.
Baiklah aku yang menjawab.
Tapi kau jangan terkejut.
Aku bukan petasan.
Aku suka kamu, kamu cinta dia.
Dor! Lalu ku meledak.
Menjadi petasan.
Dihidupmu.
Metro, 22 Maret 2013 01.45
Kamis, 21 Maret 2013
Aku Menyerah
Dari tatap mataku
Kau sempat berkelakar
berayun sendiri dengan kesenanganmu
Seolah mengajak
bukan diriku
Aku terlalu tua untuk kau ajak
Barangkali
Kau ingat
Hari ini sudah tua
Matahari sebentar lagi pulang
Kerumah ibunya, senja berakhir
Malam merindumu
Pelukan erat, tak kau lepaskan
Mungkin sesak
Sedang aku terisak
Menunggu dekapanmu berikutnya
Dan kata ini harus kutuliskan tanpa penyesalan
Aku menyerah menuju dekap pelukmu
Metro, 21 Maret 2013 19.45

