Sabtu, 07 September 2013

Surat Untuk Seseorang

Sengaja aku menulis surat ini dalam keadaan ngantuk sekali agar aku tak lama menunggu balasan dan langsung terlelap setelah titik terakhir.

Oh iya, kamu tidak usah balas surat ini. Kurang kerjaan sekali. Tugas kuliahmu saja sudah menyita waktumu. Tapi tolong sisihkan waktu lima menit untuk membaca surat ini. Jangan dianggap serius surat ini, mungkin perasaan aku saja yang sedang melankolis. Tidak sengaja folder lagu-lagu cengeng sedang diputar. Tiba-tiba tanpa diduga aku ingat kamu ditengah-tengah lagu. Sebenarnya ingin ku klik panel next, tapi maaf untuk hal ini aku tak bisa.

Astaga!
Aku baru sadar basa-basi ini terlalu berbelit-belit. Mungkin kamu sudah tak sabar apa sebenarnya maksud tujuan ku menulis surat ini.

Bagus!
Aku bisa buatmu tak sabar. Tadinya sabar adalah musuhku, tapi aku sudah mulai berdamai dan berteman dengan kata sabar. Sabar menunggu celah hatimu tuk kusinggahi.

Sebelum aku menyampai kan maksud surat ini ada satu yang masih ingin aku tahu. Apakah dirimu sudah mengantuk? Kalau sudah berhenti baca surat ini sampai disini saja jangan diteruskan. Aku tak mau besok kamu telat bangun untuk mengambil air wudhu diwaktu subuh.

Bagaimana? Masih ingin membaca surat ku ini? Baiklah, sabar, sabar ini lagi aku teruskan. Jadi begini..

Oh ya, hampir saja aku kelupaan sesuatu. Kamu sudah makan? Ini pertanyaan basa-basi yang paling basi sebenarnya. Tapi yang aku tahu selama ini wanita paling suka diperhatikan kan? Bahkan untuk hal kecil sekalipun. Atau sebenarnya ini sudah jadi titik dimana aku bingung bagaimana meneruskan percakapan. Makanya kalau aku kirim pesan singkat jangan singkat-singkat balasnya.

Ya sudah, mungkin kalimat penutup surat ini jadi kesimpulan yang klimaks bahkan bisa jadi anti-klimaks. Tergantung perasaan kamu waktu membacanya. Toh sampai sekarang aku belum bisa membaca arah hatimu.

Aku cinta kamu. Terimakasih sudah membaca sampai kalimat ini. Jangan dijawab. Aku belum siap mengetahui jawabannya.

Suwendi Lelaki.
*Ditulis sembari mendengarkan lagu The Groove - Khayalan*

Kamis, 05 September 2013

Kepercayaanku Akan Dirimu

Aku sering berdebat dengan diri sendiri tentang sesuatu yang tidak seharusnya diperdebatkan. Aku sering bertanya dengan diri sendiri tentang seberapa besar dirimu layak untuk diperjuangkan. Disaat yang sama dirimu tak mau diperjuangkan. Seperti halnya petani-petani yang setiap musim panen bertolak ke pemantang untuk menuai padi. Sedang padi tersebut nantinya mereka jual dan ditukar dengan kebutuhan pokok lainnya. Sebentar, Mengapa mereka jual? Bukankah padi adalah kebutuhan pokok yang mereka makan juga? 
Salah, mereka memakan nasi bukan padi. Sudah jangan diperdebatkan.

Sedang apa kamu disana? Eh, aku baru saja mengkhayal. Ditengah aku menulis tulisan ini kamu tiba-tiba muncul membawakan kopi dari belakang kursi. Mengecup lengkuk leherku lalu menyuruhku berhenti sejenak dan makan dulu. Tak lupa lengkung senyum indahmu mengisi disela-sela kamu aduk perlahan cangkir kopi kemudian menyuruhku mencicipinya.
"Sayang, kok pahit? Kamu lupa memberinya gula?", tanya ku.
Tanpa jawaban tiba-tiba kamu menghilang. Khayalan yang aneh, tapi akhirnya aku sadar. Kamu mengajariku satu hal, untuk menghilangkan kepahitan tak segampang menaruh gula kedalam kopi.

Aku sudah terbiasa engkau abaikan, jangan berubah! Karena itulah aku selalu bersemangat memperjuangkanmu. Sama halnya dengan agama yang aku percaya. Tuhan sengaja tidak memberi tahuku apakah aku nantinya ditempatkan ditempat yang katanya tempat paling menyejukkan atau ditempatkan ditempat yang paling kering lagi menghauskan di Akhirat kelak. Kalau aku sudah tahu terlebih dahulu, untuk apa aku terus menyembahNya?

Memang kamu bukan agama, tapi karenamu aku percaya bahwa Tuhan mengutusmu didunia untukku sebagai perantara menuju tempat paling menyejukan 'didunia' yaitu teduh matamu. Didalamnya aku bisa sementara menghilangkan rasa haus. Bagai oase yang tiba-tiba kutemukan ditandusnya padang sahara, sedang aku sebingung-bingungnya musafir. Terus mencari dimanakah Tuhan akan mempertemukan kita.

Aku enggan memelukmu sebenarnya, karena kamu bukan agama. Tapi aku percaya, Tuhan memberiku kepercayaan untuk menjagamu. Hormati kepercayaanku akan mu, seperti aku menghormati kepercayaanmu akan dirinya.

Suwendi Lelaki
NP: Ditulis dalam keadaan lagi kepikiran mana duluaan yang dilahirkan 'didunia', telur atau ayam?
Ternyata jawabannya tidak ada, soalnya ayam gak melahirkan tapi bertelur.
Sudah! Tolonglah... Jangan berdebat.

Minggu, 11 Agustus 2013

Cinta Harus Mengikhlaskan

Mau berapa lama lagi aku terus bersikukuh kalau air bisa menghancurkan batu? Its bullshit qoute ever heard for me. Mau sampai kapan aku menunggu bus ditengah hutan? Menyusuri pantai mencari ujung, menjelajahi samudera menemui ufuk barat. Mau sampai kapan?

Segala nya sudah ku telan pahit-pahit. Ada seseorang memberi ku sebuah nasihat yang katanya sahih, kalau dia cinta sejatimu kejar hingga dapat. Tidak berselang lama orang tersebut menyesal, dan tidak meneruskan apa yang ia katakan kepadaku. Bagus kalau ia segera sadar.

Hai kamu, sudah jangan perdulikan aku. Fokus saja dengan hubunganmu. Jangan siakan dia, dia yang sudah terlebih dulu menghiasi harimu. Menerangkan jiwamu dengan lampion bernama harapan-harapan. Sungguh, aku tak bermaksud membuatmu bingung. Sama seperti kau yang selama ini membuatku bingung. Tak ada balas dendam, tak kan pernah ada. Percayalah.

Segala pengalaman-pengalaman pahit sudah pernah aku alami, sudah saya tidak mau mengeluh terlalu sering. Cuma satu hal yang belum bisa kupelajari didunia ini. Ilmu ikhlas. Cinta memang harus mengikhlaskan.

Kamis, 01 Agustus 2013

Lovetemakita




Aku bukan seorang akuntan bernama Todd Peterson di film That’s my boy yang pandai berhitung atau cicit dari al-Khawarizmi seorang matematikawan yang masyur namanya dikalangan tokoh penemuan ilmu pengetahuan dunia.

Aku tak bermaksud membuatmu bingung dengan semua ini, sama hal nya waktu aku belajar fungsi persamaan garis lurus saat SMA dan tidak tahu faedah konkretnya untuk hidupku. “Sungguh aku menghabiskan waktu dengan sangat sia-sia”, kata masa mudaku. Angka 9,75 nilai matematika ku di ijazah SMA itu murni hasil kerja kerasku saat Ujian Nasional, sayangnya lewat jalur yang curang, nyontek. Kebanggan yang tak membanggakan. Tak ada satupun yang bertanya jika aku tak memberitahunya. Bahkan ayahmu juga tak menanyakan nilai tersebut saat pertama kali kau perkenalkan kepadaku. 

Tapi, ada hal yang ingin sedikit kuberi tahu kepadamu…

Kita adalah dua bilangan bulat negatif (-) yang jika dikalikan hasilnya akan menjadi positif (+). Karena kamu bukannlah Maha Sempurna, selalu ada kekurangan. Demikianpun aku. Adalah kamu yang membuat hidupku sempurna, sesempurna empat bila dibagi (/) dua. Dua kepribadian, dua sifat, dua kepentingan.
Jangan ada kuadrat diantara kita, dengan simbol congkaknya tega mengurung angka empat memaksa mengurainya menjadi dua. Tetaplah menjadi angka dua, karena angka dua satu-satunya bilangan genap yang termasuk bilangan prima.

Kamu tahu hasil dari cos 90, sin 45 atau tan 270? Aku mungkin lupa kalau tak melihat catatan kecil. Karena cinta tak seribet itu, pun halnya dengan simbol persen (%) yang tak pernah ada diskon tentang rasa saling memberi. Karena tulus bukan hal yang mesti diobral.

Oh iya pernah tahu pernyataan (8+3)-(4x6)? Mungkin tanpa tanda buka tutup kurung hasilnya tidak akan sama. Itulah pentingnya prioritas. Mengutamakan yang satu dari yang lainnya. Seperti halnya aku yang lebih dulu menjemputmu diperaduan setiap akhir pekan daripada asik bermain dengan teman-temanku.

Terakhir, jangan kamu coba-coba ukur luas hatiku, karena hatiku adalah lingkaran. Tak akan bisa kamu ukur tanpa adanya phi (π) 3,14. Sebenarnya itu hasil pembulatan dari 3,14285714~ (tak terhitung). Seperti itulah kesetiaanku jika kamu mencoba menghitung luas hatiku.

Sabtu, 13 Juli 2013

Pernah Menunggu?

Pernah merasa mengantri pinjaman DVD limited edition kepada seorang temanmu yang sanggup membelinya?

Pernah merasa menunggu buku terbitan kedua penulis kesukaanmu yang sudah sold-out sebelum kau sempat membelinya dicetakan pertama?

Pernah kesal menunggu teman yang janjian bertemu jam 8 tapi sudah jam 9 belum datang juga padahal sudah beri kabar kalau dia on the way?

Pernah merasa menanti kenaikan kelas karena orang tuamu menjanjikanmu membelikan sepeda baru kalau kamu naik kelas?

Pernah kesal menantikan pacarmu yang biasa tiap malam memberimu kata-kata romantis sebelum tidur lewat telpon tapi dia malah asik nongkrong dengan teman-teman nya?

Pernah salah satunya?
Bagaimana rasanya?
Gak enak? Kesal Menunggu?

Kita sama :)

Dari seseorang yang masih menunggu dengan kesal, kapan kau mulai melupakan nya dan mulai mempertimbangkan ku.

Selasa, 07 Mei 2013

Surga yang Kita Ciptakan

Mari ciptakan surga dengan cara kita sendiri. Saling meminta apa yang kita butuh dan melukisnya dimeja makan.

Selasa, 16 April 2013

Pengantar Tidur

Malam semakin larut sayang, iya sebentar lagi ada duplikat kamu muncul dari sebelah timur jarak pandangku. Sinarnya yang malu-mulu muncul serentak dengan ayuhan panik para pedagang bakul sayur mengendarai sepeda tergesa-gesa menuju pasar pagi. Percis seperti yang kulihat waktu pulang subuh.

Kamu tahu, pekerjaanku kalau sedang tak ada kerjaan? Ya ini, menulis apa yang terlintas dikepalaku. Dan aku ingin memberi tahu kamu tentang rahasia ku. Mau tahu? Apa yang yang terlintas dikepalaku kalau sedang tak ada kerjaan? Ya kamu. Mungkin setelah kamu tahu rahasia ini kamu tidak ngeluarkan satu kata pun, tetapi hanya senyum-senyum sendiri sambil berfikir ini hanya gombalan aku saja. Biarkan saja, yang jelas aku sudah jujur.

Kamu adalah kata-kata yang biasa aku tulis sebelum malam berubah menjadi siang. Entah kenapa, begitu mudahnya aku merangkai kata demi kata, untuk menjadi sebuah kalimat yang memiliki satu makna, kamu. Walaupun nanti kamu tak akan membacanya.

Disebuah postingan blog sebelumnya aku berpuisi, tentang kamu adalah bunga tidurku. Iya, sebenarnya obat mengantuk dan merindu itu cuma satu, yaitu tidur. Toh setelah aku tertidur rindu ku hilang dengan memimpikanmu. Semoga ibuku tak sewot aku bangun siang karena berlama-lama memimpikanmu.
Aku sudah mulai mengantuk dan sudah terlalu lama menahan rindu nih. Aku harus tidur menemuimu. Maaf terlalu lama buatmu menunggu, tadi sebelum tidur aku makan sebentar supaya waktu kamu tanya, "Kamu sudah makan belum?" Aku tak perlu menjawab bohong.

Kamis, 11 April 2013

Komitmen Buat Diri Sendiri

Tuhan menciptakan hati kecil pada setiap manusia sebagai Lembaga Pengontrol dari suatu tindakan/rencana. Teori ini baru saja saya karang sendiri, tapi ada benarnya. Jika kita tidak bisa berkomitmen kepada orang lain, setidaknya kita bisa berkomitmen kepada diri sendiri dahulu. Jika memang itu adanya, marilah berkomitmen kepada diri sendiri terlebih dahulu dari hal-hal kecil yang jika dipikir akan keluar perkataan, 'Iya juga ya'.

Dan jika demikian, mungkin hati kecil saya akan memberikan peraturan-peraturan komitmen kecil untuk mengontrol apa yang sering saya perbuat, seperti:

- Wendi, kamu sering ngerokok dikamar, kamarmu jadi bau rokok. Emang nyaman tidur dikamar yang bau?

- Wendi, kamu kalo tidur jangan terlalu larut, gak punya rasa kasihan dengan badan? Tambah kurus loh.

- Wendi, Kalo baju yang udah dipake itu bok ya ditarok dibelakang, jangan digantung semua digantungan kamar. Jadi sarang nyamuk nanti.

- Wendi, Kalo abis makan piringnya langsung dicuci, terus ditaruh di rak lansung. Kasian ibu mu kalo harus yang cuci.

- Wendi, emang penting ya setiap pup bawa hape? Nanti kalo misal hapenya nyemplung di Lobang wc gimana?

- Wendi, kalo abis pake motor itu kuncinya jgn lupa dicabut. Lagi musim kemalingan motor loh.

-Wendi, bangun pagi ngerasain panas jam8 pagi itu sehat loh buat kesehatan terutama tulang.  Coba deh bangun pagi.

- Wendi, ini jam berapa? Udah malem loh. Kasian kalo pulang larut malam harus bangunin orgrmh untuk bukain pintu. Mereka juga mau istirahat. Kesel tau lagi enak tidur dibangunin. Iya kan?

- Wendi, bisa gak sih kalo magrib itu dirumah? Bukan dirumah orang.

- Wendi, coba deh nengok keatas. Kamar kamu banyak sarang laba-laba ya. Bersihin tiap minggu gak kerasa berat kan?

- Wendi, Ini hari apa? Astaga nginget hari aja harus liat hape!

-Wendi, Diumur 21 Tahun ini masih mau maen-maen? Selamat ya, masa depan kamu belum keliatan!

Terima kasih hati kecil sudah mengingatkan. Mari berkomitmen untuk memperbaiki kebiasaan yg sudah melenceng jauh!

Selasa, 09 April 2013

Permintaanku Kepadamu

Saat hidupku sudah jenuh
Rutinitas tak penuh
Hanya menyapa keluh
Cuma satu tempat berteduh
Rindang alis matamu

Badai angin bergemuruh
Berteriak sangat gaduh
Tak satupun yang ampuh
Mengalahkan lengkung alis matamu

Aku Tahu
Hidupmu bukan cuma aku melulu
Dirinya ada dihatimu
Kadang aku harus sadar itu
Maka daripada itu
ijinkanlah diriku
Berteduh di sayu matamu.


Senin, 08 April 2013

Benci Pagi

Sungguh aku sangat benci pagi.
Harus berapa kali ku mencubit pipiku.
Kenyataan bahwa kau tak ada.
Cuma mimpi?
Iya tepat, seratus buat kamu.
Pil pahit buat aku.

Tidur lagi untuk menemuimu masih malam nanti.
Pekerjaan yang selalu ku kerjakan dan tak pernah ku selesaikan.
Sengaja.
Itu lah mengapa aku sangat menantikan malam.
Hanya untuk lebih intim denganmu.
Walau semua nya hanya mimpi.
Mimpi indah yang sebenarnya mimpi buruk.

Sabtu, 06 April 2013

Bunga Tidur

Malam pukul 22 dan aku mengantuk.
Seperti biasa, hendak menyapamu.
Kau sudah siap dikasurku?
Kalau begitu aku harus tergesa-gesa.

Menemui kehampaan, menjamah ketiadaan.
Menelanjangi fikiran, mencumbui kesunyian.

Semoga aku tak telat sampai dirumah dan kau belum pergi.
Menjadi bunga tidurku.
Karena itu yang membuatku bergegas pulang.
Lalu tertidur, pulas.

Kamis, 28 Maret 2013

Iri

Saya merasa iri kepada sepasang kekasih yang dipisahkan jarak saling mengumbarkan kasih sayang, cinta dan harapan. Tak lupa juga mereka menyelingi nya dengan candaan, gurauan dan humor. Garing sebenarnya tapi begitu asik dimata saya. Saya tidak pernah merasa terganggu dengan keberadaan mereka di Timeline saya. Mungkin disaat larut malam seperti ini lah mereka menyiasatinya dengan meluangkan waktu nya untuk sekedar membahas harinya tadi. Dan saya memaklumi itu. Sungguh syahdu, semoga mimpi mempertemukan mereka. Sungguh ku merasa iri.

Rabu, 27 Maret 2013

Melupakanmu

Mengingatmu malam ini
bukanlah obat tidur yang mempercepatku terlelap

Tapi..
Mengingatmu malam ini
adalah kopi hitam paling pahit

Maaf aku tak bisa mengingatmu terlalu lama, kamu adalah sumber kelelahanku,  aku harus mempercepat waktu tidur dan segera melupakanmu.

Sabtu, 23 Maret 2013

Aku (pura-pura) Tidak Tahu Judul Puisi Ini

Menari-nari melukis langit

Entah apa yang terjadi

Irigasi nadi ku mengering

Gagal memanen bahagia

Asap tebal menyelimuti pemantang

Rasanya luka, tak kunjung padam

Aku bukan petani dihidupmu

Namun bagiku kamu

Irama riuh nyanyian burung bersautan

Jumat, 22 Maret 2013

Kata Hati #TulisPuisi

Sama dengan mengarungin luas hatimu.
Dan aku tak bisa berenang.
Ikan hiu disekeliling.
Menanti tubuh biru.
Ngambang dan kembung.

Kubutuh nafas buatan.
Dari sombong bibirmu.
Yang terus saja menyindirnya.
Semacam kode tak terbalas.
Kasihan duhai sayang.

Seperti kau silet kulit ari ku.
Lalu kau tetesi garam lautan.
Pedih duhai sayang.

Ada yang lebih pedih dari ini?
Ada?
Oh kau tak menjawab.
Baiklah aku yang menjawab.
Tapi kau jangan terkejut.
Aku bukan petasan.

Aku suka kamu, kamu cinta dia.
Dor! Lalu ku meledak.
Menjadi petasan.
Dihidupmu.

Metro, 22 Maret 2013 01.45

Kamis, 21 Maret 2013

Aku Menyerah

Kamu begitu jauh
Dari tatap mataku
Kau sempat berkelakar
berayun sendiri dengan kesenanganmu
Seolah mengajak
bukan diriku
Aku terlalu tua untuk kau ajak
Barangkali

Kau ingat
Hari ini sudah tua
Matahari sebentar lagi pulang
Kerumah ibunya, senja berakhir
Malam merindumu
Pelukan erat, tak kau lepaskan
Mungkin sesak
Sedang aku terisak
Menunggu dekapanmu berikutnya
Dan kata ini harus kutuliskan tanpa penyesalan
Aku menyerah menuju dekap pelukmu



Metro, 21 Maret 2013 19.45

Minggu, 17 Maret 2013

Pemberi Harapan Palsu vs Penikmat Harapan Palsu

“Saya lebih baik dilarang masuk mulai dari pagar daripada diperbolehkan masuk tapi harus menunggu lama diteras rumah. Aku menunggu cemas diteras sedangkan kau dikamar sibuk mengenangnya”.

Rabu, 13 Maret 2013

Dan Cerita pun Bermulai (Kembali)

“Kamu adalah luka masa lalu, belum mengering dan masih berbekas. Tapi tak kuperdulikan karena memang aku yang salah terlalu ngebut dalam berkendara--dan terjatuh. Begitulah ku mendeskripsikan dirimu. Dikeramaian subuh ku melihatmu lagi dan cerita pun bermulai (kembali).”

Dulu aku beranggapan hari tercantik bagi dirimu adalah saat kita ada disuatu tempat makan. Kau menikmatinya perlahan dan aku tergesa gesa menghabisinya. Ternyata anggapan ku salah, kau lebih cantik dari hari terakhir kita bertemu. Saat itu tanggal 27/09/2010 saat aku utarakan perasaan ku kepadamu. Dan kau menolaknya. Sejak saat itu aku belum bisa menerima keadaan dan menghilang dari kehidupanmu. Menyerah dan tak berkutik barangkali.

Rabu, 06 Februari 2013

Untuk Yang ke-Tak Terhingga Kalinya.




Sebentar deh, Siapa kamu masuk dihidupku?
Setiap kali ku ingat dirimu, ahh rasanya mau langsung tidur agar bisa bertemu kamu. Karena cuma dengan tertidur aku merasa dekat denganmu. Ahh sial, ibuku segera membangunkanku dipagi itu, padahal aku belum selesai melukis wajahmu.

Jumat, 11 Januari 2013

Aku pulang, dengan PR yang menumpuk




Kadang aku iri dengan anak-anak yang berlarian pulang sekolah, bercengkrama dengan teman-temannya menuju rumah tanpa takut ditanyai nilai ulangan oleh ibunya. Terkadang aku juga takut menuju rumah, kembali dari petualangan mencari kebahagiaan.

Tapi terkadang apa yang kucari selama ini diluar sana ada didalam rumah. Kita bisa saja menyeduh kopi itu sendiri dirumah. Duduk ditemani hujan, lalu merayakannya. Itulah, terkadang kita ingin mencari suasananya. Bukan hanya sekedar duduk termenung menyendiri mengingat masa lalu yang mencolek ingin disapa.

Jumat, 04 Januari 2013

BEBAS !



Hai apa kabar kamu disana? Masih betah bersembunyi? Padahal saya sudah bosan mencarimu loh. Sudah lama saya akhiri permainan petak kumpet dari tahun kemarin. Sekarang kau bebas untuk menampakkan diri, bagai pelangi yang secara natural muncul pasca hujan lebat disore hari kemarin lusa. Bahkan saya sudah banyak meneguk kopi kekalahan. Menantikan hari dimana rasa dendam hilang tiap teguknya. Nyaris ku gigit bibir cangkir itu. Seraya menggerutu menerima takdir tak bisa menggigit gemas bibirmu (lagi).

Harus saya akui jujur disini, saya terima kekalahan perang dingin itu. Merelakan harta dirampas. Maklum kamu semacam harta rampasan perang. Baginya kau begitu spesial, bagai lempengan emas yang dulu menghiasi pakaian perangku. Tapi bagiku kamu biasa saja, tidak jauh halnya dengan lempengan kuningan. Banyak menipu.

Silahkan umbar, saya sih berdoa aja supaya jalan lurus menyertai. Untuk saya, masih banyak kan lahan kosong yang ingin didiami hatinya? Yang mau mewarnai jiwaku? Saya sih yakin. Iya yakin seyakin yakinnya!

Maaf sedikit vulgar, ini sekalian biar kamu tau. Saya sih senang keluar dari semacam penjara batin yang dulu sempet mengurung. Sedikit terbatas ruang gerak, hanya waktu makan saja yang bisa buat lupa. Toh selera makan saya makin lahap sekarang setelah keluar. BEBAS! fufufu