Jumat, 21 Agustus 2015

SURAT TERBUKA UNTUK BAPAK-BAPAK

Kepada bapak-bapak yang wajahnya sering saya jumpai di sepanjang jalan. Doa saya untuk anda-anda semua, terlebih dengan niat baik kalian semua. Sungguh naif rasanya jika saya benci kalian. Kenal saja tidak, apalagi ngobrol, apalagi semeja bareng sambil ngopi-ngopi di kafe. Tapi kok ya saya agak risih ya, pak. Wajah anda-anda di baliho itu sebenernya ndak masalah, tapi kalo liat baliho-baliho yang (sengaja/tidak sengaja) tersobek itu malah jadi pemandangan yang ndak enak dipandang mata.

Saya termasuk dalam kategori, swing voter (jika bapak-bapak tidak tahu, coba tanyakan kepada ketua tim sukses masing-masing). Saya memilih jika saya sudah yakin dengan anda, baik kinerja atau latar belakang. Bukan dengan campaign-campaign hitam atau dengan uang. Maap ini, uang lima puluh ribu bagi saya memang besar, tapi lima puluh ribumu untuk lima tahunmu? Sudah gila?

Tidak dipungkiri, sebesar apapun pengaruh saya kepada orang banyak, saya hanya memiliki satu suara di bilik TPS nanti. Tapi bayangkan jika ada 1000 orang di sini yang berpikiran sama seperti saya? Lumayan bos! Maap, agak esmosi. Ehe-ehe.

Cara-cara seperti menebar banyak poster senyum bias di jalan atau mengundang orang datang ke rumah untuk makan bersama itu sudah "so yesterday" kalo kata anak kekinian yang suka nongkrong sambil wifian. Coba dong cara yang lebih segar, penasehat politik anda-anda sekalian pasti paham betul dengan ini harusnya.

Ibarat anda-anda ingin mendapat ikan, cara lama seperti menggunakan pancing atau jala memang efektif, sempat berfikir gak sih? ikan-ikan jaman sekarang itu sudah pinter-pinter lho, pak. Apalagi kalo yang mancing banyak, ya ikannya udah keilangan napsu makan umpan duluan. Apalagi kita semua tau, orang mancing sekarang kebanyakan cuma buat iseng, udah dapet ikan, difoto, trus dilepas lagi. Mantap! Coba dong bapak-bapak sekalian lebih peka, apa coba perasaan ikannya? Belum pernah diPHPin, ya? Sakit pak. Maap, saya malah curcol, boleh saya lanjutkan? Coba dong cara yang lebih anti mainstream.

Ikan jaman sekarang itu easy going, friendly gitu lah pak. Coba deh sesekali bapak jebur kolam/empang untuk ngobrol sama ikan-ikan. Tanya, kurang gak pakannya, bosen gak diumpanin pelet trus, gitu. Pasti bapak berfikiran saya sudah gila, hey tidak ada manusia yang waras sekarang, hidup ini sudah terlalu tidak rasional. Dan jika anda beranggapan sinting amat sampe jebur kolam, lah ini cara yang tidak biasa toh? Saya cuma berusaha memberi masukan.

Setelah itu pasti anda sekalian bilang, "Ah anda anak muda, suka bercanda! Kenapa anda tidak ikut nyalon pilkada saja?" Hehe.

Gini lho, bapak-bapak sekalian. Maap lagi sebelumnya. Pertama, saya tidak biasa nyuruh orang lain untuk hal yang bisa saya kerjakan sendiri, lagian saya gak bisa dikawal-kawal. Kurang 'wus-wus' kerjanya malahan. Gitu.
Kedua, saya tidak biasa bekerja secara kontrak, lima tahun. Tidak perlu saya jelaskan lagi, kita semua tahu.
Ketiga, saya harus berkeluarga atau mempunyai istri terlebih dulu agar bisa mencalonkan diri. Lah, ini aja abis ditinggal kawin. Belum sih, tapi bentar lagi, hiks. Bapak-bapak punya anak gadis? Atau ponakan perempuan yang kinyis-kinyis mengkel siap unduh? Rekomendasiin saya bisa kali. Siapa tahu, kan? Jodoh gak ada yang tau. Ehe-ehe.

Semoga surat terbuka saya ini bisa terbaca oleh salah satu diantara kalian. Jika berkenan dan ada waktu senggang bisa kali kita ngopi-ngopi santai. Ajakan ngopi ini serius lho bapak-bapak, kita bisa ngobrol apapun, politik, sosial, lifestyle, bola, musik rock sampe daleman isi rok.

Sebenarnya surat ini belum selesai saya tulis, cuma mood nulis saya tiba-tiba hilang. Lain waktu saya lanjutkan lagi, tapi ndak janji ya. Mungkin bapak-bapak lebih paham prihal janji dan bagaimana rasanya jika janji tak tertepati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar