Kamis, 12 November 2015

Kota Metro, Kota Komunitas Kreatif Anak Muda





Saya termasuk golongan orang yang percaya tulisan yang bagus adalah tulisan dari hati yang berdasarkan pengalaman pribadi. Maka di sini saya hanya ingin bercerita tentang mantan saya yang sering ngajak balikan. Eh, Bukan. Bukan itu!

Sekitar sebulan yang lalu, komunitas di mana tempat saya dibesarkan, Metro Skateboarding dan juga teman komunitas lain Lampung BMX baru saja berduka. Tempat biasa kami bermain skateboard di halaman Masjid Taqwa Kota Metro sudah tidak dapat kami gunakan untuk bermain. Semua ini berawal ketika di sudut halaman masjid terdapat sebuah banner yang di dalamnya terdapat tulisan “Hormatilah Masjid Kita. Bermainlah Pada Tempatnya” Subhanallah!

Sontak hal itu membuat kami kebingungan harus kemanakah kami menyalurkan bakat dan hobi yang sudah lama kami cintai ini? Sebagai informasi, sebelumnya kami pernah memakai pendopo-pendopoan di Lapangan Samber namun kalah sama pedagang angkringan malam, pernah juga kami bermain di area jalan lambat samping Masjid Taqwa namun kalah dengan lahan parkir dan tempat odong-odong Taman Kota yang juga lewat situ. Memang untuk urusan perut kami terpaksa harus mengalah.
Ketika banner larangan bermain di halaman Masjid Taqwa muncul, satu pertanyaan muncul, harus bermain di mana lagi kami? Bulan? Yakali!

Segala upaya kami lakukan agar hobi kami dapat tersalurkan, salah satunya membalas banner tersebut dengan tulisan “Andai Saja Kami Punya Tempat, Kami Tidak Akan Bermain di Halaman Masjid. Kami Butuh Lahan Untuk Bermain” Lalu memfotonya dan beramai-ramai mengunggahnya di sosial media dengan tagar #ButuhTempatBermain. Foto ini sempat ramai diperbincangkan netizen bukan hanya dari Metro tapi juga luar Metro. Foto ini juga sempat diposting di portal berita warga Metro, pojoksamber.com dengan link http://www.pojoksamber.com/berita-foto-perlawanan-tanpa-kekerasan/. Terkadang untuk melawan tidak harus dengan kekerasan, bukan?

Perjuangan mencari tempat bermain tidak berhenti sampai di situ, beberapa hari yang lalu saya dan beberapa teman menyempatkan diri untuk nyore di Taman Ki Hajar Dewantara di Kelurahan Iringmulyo, Metro Timur. Sekitar satu jam saya duduk-duduk di sini sembari menikmati silir angin di bawah pepohonan. Kesimpulan pun muncul kalau tempat ini sangat cucok untuk tempat kami bermain.Bahkan bukan hanya komunitas kami, tapi komunitas-komunitas lain yang butuh tempat untuk menyalurkan hobi dan bakatnya bisa menggunakan taman ini. Jujur harus diakui, komunitas-komunitas di Metro ini luar biasa hebat. Namun karena tidak adanya “panggung” untuk menujukkan kehebatannya membuat bakat ini kurang terakomodir.

Kenapa tempat ini cucok? Pertama, tempat ini memiliki luas yang memadai dan bentuk fisik yang skateable. Kedua, tempat ini memang diperuntukan untuk komunitas di Metro. Ketiga, karena letaknya dekat kawasan kampus, banyak mbak-mbak lucu pulang kuliah yang nyore di sini. Hehehe.
Namun karena letak lokasinya jauh dari pusat kota dan tata kelola yang belum maksimal membuat taman yang bagus ini mulai terabaikan. Ini dapat dilihat dari fasilitas penerangan yang belum memadai, toilet umum yang tak terawat serta belum ada fasilitas penunjang lainnya sebagai syarat taman yang ideal seperti lahan parkir, tempat duduk dan tentu saja wifi. Karena apalah artinya tempat nongkrong tanpa adanya wifi. Hidup wifi!

So, Akan sangat bijak apabila taman yang kita miliki ini direvitalisasi menjadi pusat kegiatan kreatif anak muda. Seperti dibuatkan skatepark, taman bermain anak, dibangun stand-stand ekonomi berbasis kreatif, dibangun panggung tempat komunitas seni unjuk aksi, dibuatkan wall climbing. Untuk urusan tata kelola dan perawatannya? Serahkan saja kepada komunitas-komunitas yang ada di Kota Metro. Moso udah dikasih tempat ndak mau ngurusi? Kurang ajar sekali kami. Jadi misal skatepark diserahkan tanggung jawab kepada komunitas skateboard, BMX dan inline skate, stand ekonomi kreatif diserahkan pengelolaannya kepada Bussiness Developing Center (BDC), panggung kesenian diserahkan tanggung jawab kepada komunitas teater dan sebagainya. Wah ini akan jadi salah satu kebijakan yang sungguh cetar badai!

Jika ingin mencontoh kota lain, kita bisa mencontoh kota Bandung dengan Taman Pasupatinya. Sebelum taman ini berdiri, taman yang lokasi berada di bawah flyover Pasupati ini tadinya adalah tempat yang kumuh dan gelap, nyaris tidak ada yang mau ke sana. Pengecualian bagi yang memiliki niat khusus, hehehe. Namun setelah taman ini dibangun, dengan segala aktivitas yang diperuntukkan dan dikelola oleh komunitas maka pada akhirnya tempat yang gelap ini menjadi alternatif pusat keramaian lain di Bandung selain Dago dan Gedung Sate tentunya.

Kami akan sangat berterima kasih kepada pemerintah kota apabila uneg-uneg dan masukan dari warganya dapat didengar dan direalisasikan. Agar komunitas-komunitas yang ada di Kota Metro bisa tumbuh dan hidup. Akan sangat mulia apabila kita hidup untuk saling menghidupi bukan? Subhanallah.

Ini sih akan jadi langkah yang berani diambil pemerintah kota dan menjadi prestasi tersendiri prihal tata kelola kota yang dapat memindahkan pusat keramaian dari taman kota yang mulai sesak ke daerah pinggiran kota.

Lalu pertanyaannya, apakah pemerintah kota Metro dalam hal ini Bappeda, Dinas Tata Kota, Dinas Pekerjaan Umum dapat bersinergi dan berani mengambil langkah berani ini? Tidak ada kata tidak berani untuk kembali mengelola dan mentata ulang Taman Ki Hajar Dewantara. Karena yang tidak boleh di dunia ini adalah kembali ke pelukan mantan yang sering ngajak balikan padahal sering nyakitin hati. Eh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar