Sekitar sebulan yang lalu, komunitas di mana tempat saya
dibesarkan, Metro Skateboarding dan juga teman komunitas lain Lampung BMX baru
saja berduka. Tempat biasa kami bermain skateboard di halaman Masjid Taqwa Kota
Metro sudah tidak dapat kami gunakan untuk bermain. Semua ini berawal ketika di
sudut halaman masjid terdapat sebuah banner yang di dalamnya terdapat tulisan
“Hormatilah Masjid Kita. Bermainlah Pada Tempatnya” Subhanallah!
Sontak hal itu membuat kami kebingungan harus kemanakah
kami menyalurkan bakat dan hobi yang sudah lama kami cintai ini? Sebagai
informasi, sebelumnya kami pernah memakai pendopo-pendopoan di Lapangan Samber
namun kalah sama pedagang angkringan malam, pernah juga kami bermain di area
jalan lambat samping Masjid Taqwa namun kalah dengan lahan parkir dan tempat
odong-odong Taman Kota yang
juga lewat situ. Memang untuk
urusan perut kami terpaksa harus mengalah.
Ketika banner larangan bermain di halaman Masjid Taqwa
muncul, satu pertanyaan muncul, harus bermain di mana lagi kami? Bulan? Yakali!
Segala upaya kami lakukan agar hobi kami dapat
tersalurkan, salah satunya membalas banner tersebut dengan tulisan “Andai Saja
Kami Punya Tempat, Kami Tidak Akan Bermain di Halaman Masjid. Kami Butuh Lahan
Untuk Bermain” Lalu memfotonya
dan beramai-ramai mengunggahnya di sosial media dengan tagar
#ButuhTempatBermain. Foto ini sempat ramai diperbincangkan netizen bukan hanya dari Metro tapi juga luar Metro. Foto ini juga
sempat diposting di portal
berita warga Metro, pojoksamber.com dengan link http://www.pojoksamber.com/berita-foto-perlawanan-tanpa-kekerasan/. Terkadang untuk melawan tidak
harus dengan kekerasan, bukan?
Perjuangan mencari tempat bermain tidak berhenti sampai
di situ, beberapa hari yang lalu saya dan beberapa teman menyempatkan diri untuk nyore
di Taman Ki Hajar Dewantara di Kelurahan Iringmulyo, Metro Timur. Sekitar satu
jam saya duduk-duduk di sini sembari menikmati silir angin di bawah pepohonan.
Kesimpulan pun muncul kalau tempat ini sangat cucok untuk tempat kami bermain.Bahkan bukan hanya komunitas kami, tapi komunitas-komunitas
lain yang butuh tempat untuk menyalurkan hobi dan bakatnya bisa menggunakan
taman ini. Jujur harus diakui, komunitas-komunitas di Metro ini luar biasa
hebat. Namun karena tidak adanya “panggung” untuk menujukkan kehebatannya
membuat bakat ini kurang terakomodir.
Kenapa
tempat ini cucok? Pertama, tempat ini memiliki luas yang memadai dan bentuk fisik yang skateable. Kedua, tempat ini memang diperuntukan
untuk komunitas
di Metro. Ketiga, karena letaknya dekat kawasan kampus, banyak
mbak-mbak “lucu” pulang kuliah
yang nyore di sini. Hehehe.
Namun karena letak lokasinya jauh dari pusat kota dan
tata kelola yang belum maksimal membuat taman yang bagus ini mulai terabaikan.
Ini dapat dilihat dari fasilitas penerangan yang belum memadai, toilet umum
yang tak terawat serta belum ada fasilitas penunjang lainnya sebagai syarat
taman yang ideal seperti lahan parkir, tempat duduk dan tentu saja wifi. Karena
apalah artinya tempat nongkrong tanpa adanya wifi. Hidup wifi!
So, Akan
sangat bijak apabila taman yang kita miliki ini direvitalisasi menjadi pusat
kegiatan kreatif anak muda. Seperti dibuatkan skatepark, taman bermain anak, dibangun stand-stand ekonomi
berbasis kreatif, dibangun panggung tempat komunitas seni unjuk aksi, dibuatkan
wall climbing. Untuk urusan tata
kelola dan perawatannya? Serahkan saja kepada komunitas-komunitas yang ada di
Kota Metro. Moso udah dikasih tempat ndak mau ngurusi? Kurang ajar sekali
kami. Jadi misal skatepark diserahkan
tanggung jawab kepada komunitas skateboard, BMX dan inline skate, stand ekonomi
kreatif diserahkan pengelolaannya kepada Bussiness
Developing Center (BDC), panggung kesenian diserahkan tanggung jawab kepada
komunitas teater dan sebagainya. Wah ini akan jadi salah satu kebijakan yang sungguh
cetar badai!
Jika ingin mencontoh kota lain, kita bisa mencontoh
kota Bandung dengan Taman Pasupatinya. Sebelum taman ini berdiri, taman yang
lokasi berada di bawah flyover Pasupati
ini tadinya adalah tempat yang kumuh dan gelap, nyaris tidak ada yang mau ke
sana. Pengecualian bagi yang memiliki niat khusus, hehehe. Namun setelah taman ini dibangun, dengan segala aktivitas
yang diperuntukkan dan dikelola oleh komunitas maka pada akhirnya tempat yang
gelap ini menjadi alternatif pusat keramaian lain di Bandung selain Dago dan
Gedung Sate tentunya.
Kami akan sangat berterima kasih kepada pemerintah
kota apabila uneg-uneg dan masukan
dari warganya dapat didengar dan direalisasikan. Agar komunitas-komunitas yang
ada di Kota Metro bisa tumbuh dan hidup. Akan sangat mulia apabila kita hidup
untuk saling menghidupi bukan? Subhanallah.
Ini sih akan
jadi langkah yang berani diambil pemerintah kota dan menjadi prestasi tersendiri
prihal tata kelola kota yang dapat memindahkan pusat keramaian dari taman kota
yang mulai sesak ke daerah pinggiran kota.
Lalu pertanyaannya, apakah pemerintah kota Metro
dalam hal ini Bappeda, Dinas Tata Kota, Dinas Pekerjaan Umum dapat bersinergi
dan berani mengambil langkah berani ini? Tidak ada kata tidak berani untuk
kembali mengelola dan mentata ulang Taman Ki Hajar Dewantara. Karena yang tidak
boleh di dunia ini adalah kembali ke pelukan mantan yang sering ngajak balikan
padahal sering nyakitin hati. Eh.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar