Tabik pun!
Halo bapak,
saya rasa ini penting. Mungkin saat ini bapak sedang sibuk dengan acara
ceremonial serah terima jabatan atau apapun itu di sebuah gedung, di mana yang
menjadi fokus utama orang-orang adalah sosok yang dipilih warga memimpin Metro
hingga lima tahun ke depan.
Saya
membayangkan orang-orang di dalam sana mengucapkan selamat tinggal kepada bapak,
kemudian bapak meninggalkan tempat tersebut memasuki sebuah mobil pribadi yang
sudah disiapkan di mana setiap meter mobil itu berjalan, orang akan melupakan bapak
semeter demi semeternya.
Maka
sebelum orang (termasuk saya) mulai melupakan bapak, saya berusaha menulis
semampu apa yang bisa saya tulis. Sebab saya berkeyakinan, raga seseorang boleh
saja mati, tapi tidak dengan tulisannya. Semoga demikian.
Saya ingat
betul, kala itu Kamis, 20 Agustus 2015. Ketika saya sedang skrol timeline twitter, tiba-tiba melihat
sebuah link berita foto di mana bapak
yang dipercaya menjalani roda pemerintahan Metro selepas Pak Lukman selesai
masa tugasnya. Di dalam kepala saya bertanya, siapa orang ini? Sosok berkumis
tebal yang pernah saya jadikan materi stand
up kira-kira begini (maaf pak, maaf betul) “Metro sekarang punya PJ
Walikota, namanya pak Chrisna. Kumisnya tebel, mirip sama mas Adam (suaminya
inul). Ini saya curiga pas pulang ngantor, pulangnya bukan di rumah dinas, tapi
di Invist.” Kala itu penonton stand up
saya tertawa terbahak-bahak. Semoga bapak pun ketika membaca tulisan ini.
Mungkin
karena itu saya beranggapan, kumis tebal, wajah serius membuat saya berfikir
bahwa bapak adalah sosok yang kaku- birokrat sejati. Orang yang akan sulit
ditemui, ketika ingin menemui bapak harus lewat protoler yang menurut saya
tidak masuk logika, secara pemerintah adalah pelayan masyarakat, yang dibayar dengan
pajak yang kami keluarkan. Tugasnya adalah melayani kami-kami ini yang luar
biasa banyak maunya. Merengek seperti anak kecil yang kemauannya harus
dipenuhi.
Bapak yang dekat dengan warga lewat sosial
media
Anggapan
kaku dari saya itu ternyata salah. Selama enam bulan, waktu yang bapak miliki
untuk mengurusi pemerintahan Metro digunakan sebaik-baiknya. Tidak perlulah
saya menulis prestasi atau pencapaian kerja di sini, sebab kami semua bisa
mengetahuinya lewat social media pribadi bapak atau akun facebook protokol. Atau bagi yang tidak bermain sosmed bisa mengetahuinya lewat media
cetak. Maklum, bapak kerap dibilang sosok yang bersahabat dengan media.
Seperti
yang bu camat cantik Metro Pusat
ceritakan di acara ngopi bareng Chrisna beberapa hari yang lalu, ketika bapak
mengadakan rapat perdana, bapak berpesan bahwa akan membangun Metro lewat
media. Menurut saya ini merupakan cara yang efektif. Berinteraksi langsung
lewat social media sangat bagus. Terutama bagi kami, anak muda yang terlanjur
gaul di era social media. Saya, sebagai representasi anak muda yang sudah
terlanjur apatis dengan kinerja pemerintahan, yang selalu mempertanyakan apa
sih kerjanya pemimpin kami pada akhirnya tahu lewat social media.
Pernah suatu
kali ini kisah nyata, saya berdebat masalah ini dengan teman saya,
mempertanyakan apa kerja pemimpin. Kemudian saya beritahu kerja bapak (yang
saya ketahui dari akun pribadi bapak) kalo bapak ke sini, kemudian ke sana
blablabla. Trus teman saya yang bingung mau balas apa, dengan santainya
berujar, “Iya sih yang anak PJ.” Lah, kan saya tahunya dari akun bapak, salah
dia yang tidak temenan/mengikuti bapak di sosmed. Aneh. Ah, saya jadi ngalor-ngidul.
Saya sering
bertemu dengan bapak di berbagai kesempatan, sifat ramah dan mudah ditemui
sudah melekat di gaya kepemimpinan bapak. Sifat yang menurut saya ini penting.
Gimana tidak, orang seperti saya yang sebelumnya tidak punya akses menemui
pemimpin dapat menemui bapak. Bahkan tidak hanya sekali dua kali.
Bapak yang dekat dengan komunitas.
Sebagai
anak muda yang masuk di dalam banyak kegiatan di berbagai komunitas, saya
bersyukur. Bapak adalah sosok yang dekat dengan komunitas. Komunikasi yang
intens berhasil bapak bangun dengan komunitas yang ada di Metro. Mendengarkan
keluh kesah, memfasilitasi serta membantu komunitas agar tetap bertahan dan
tumbuh membangun kota lebih kreatif.
Saya ingat
betul, ketika komunitas tempat saya dibesarkan, Metro Street mendapatkan
perhatian. Di mana di kepemimpinan sebelum bapak belum mendapatkan perhatian.
Kami yang pada awalnya bingung tidak adanya tempat bermain, sebentar lagi
memiliki tempat bermain yang kami impikan. Skatepark pertama di Lampung yang
diinisiasi oleh komunitasnya. Terwujudnya gerakan #WeBuildOurSkatepark tidak
lepas dari campur tangan bapak membantu kami. Untuk ini kami sangat berterima
kasih. Kami mengharapkan kehadiran bapak di peresmian skatepark nanti.
Bapak yang berani ambil keputusan cepat
Keluh kesah
warga adalah keharusan bagi pemerintah untuk mengambil keputusan. Saya sangat
terkesan dengan bapak, ketika mengetahui taman pendidikan yang gelap tempat jin
buang anak pada malam hari menjadi keresahan warga kini teran. Hanya dalam
waktu kurang dari tiga hari setelah bapak perintahkan kepada dinas terkait. Bahkan
sekarang sudah ada wifi. Semoga fasilitas ini terus ada, bukan sebulan-dua
bulan.
Tidak hanya
itu, mungkin banyak keputusan cepat dan tepat yang bapak ambil di mana saya
tidak mengetahuinya. Contohnya poin hasil rapat dengan SKPD dan musrenbang.
Well done, sir!
Ketika
bapak membaca tulisan ini di dalam mobil menuju pulang ke rumah, yakinlah satu
hal: pemimpin bisa saja dilupakan, tapi tidak dengan karya dan usahanya. Enam
bulan adalah waktu yang sebentar untuk memimpin suatu kota, namun perubahan
yang bapak torehkan tidak akan membuat kami lupa. Selamat pak, anda sudah menjalankan
tugas dengan sangat baik, kami sangat puas. Kembalilah memimpin lima tahun lagi
jika bapak ingin, saya termasuk makmum yang lantang mengucapkan amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar