Rabu, 17 Februari 2016

Ode untuk Chrisna: Sosok yang mungkin akan terlupakan



Tabik pun!
Halo bapak, saya rasa ini penting. Mungkin saat ini bapak sedang sibuk dengan acara ceremonial serah terima jabatan atau apapun itu di sebuah gedung, di mana yang menjadi fokus utama orang-orang adalah sosok yang dipilih warga memimpin Metro hingga lima tahun ke depan.
Saya membayangkan orang-orang di dalam sana mengucapkan selamat tinggal kepada bapak, kemudian bapak meninggalkan tempat tersebut memasuki sebuah mobil pribadi yang sudah disiapkan di mana setiap meter mobil itu berjalan, orang akan melupakan bapak semeter demi semeternya.
Maka sebelum orang (termasuk saya) mulai melupakan bapak, saya berusaha menulis semampu apa yang bisa saya tulis. Sebab saya berkeyakinan, raga seseorang boleh saja mati, tapi tidak dengan tulisannya. Semoga demikian.


Saya ingat betul, kala itu Kamis, 20 Agustus 2015. Ketika saya sedang skrol timeline twitter, tiba-tiba melihat sebuah link berita foto di mana bapak yang dipercaya menjalani roda pemerintahan Metro selepas Pak Lukman selesai masa tugasnya. Di dalam kepala saya bertanya, siapa orang ini? Sosok berkumis tebal yang pernah saya jadikan materi stand up kira-kira begini (maaf pak, maaf betul) “Metro sekarang punya PJ Walikota, namanya pak Chrisna. Kumisnya tebel, mirip sama mas Adam (suaminya inul). Ini saya curiga pas pulang ngantor, pulangnya bukan di rumah dinas, tapi di Invist.” Kala itu penonton stand up saya tertawa terbahak-bahak. Semoga bapak pun ketika membaca tulisan ini.

Mungkin karena itu saya beranggapan, kumis tebal, wajah serius membuat saya berfikir bahwa bapak adalah sosok yang kaku- birokrat sejati. Orang yang akan sulit ditemui, ketika ingin menemui bapak harus lewat protoler yang menurut saya tidak masuk logika, secara pemerintah adalah pelayan masyarakat, yang dibayar dengan pajak yang kami keluarkan. Tugasnya adalah melayani kami-kami ini yang luar biasa banyak maunya. Merengek seperti anak kecil yang kemauannya harus dipenuhi.

Bapak yang dekat dengan warga lewat sosial media

Anggapan kaku dari saya itu ternyata salah. Selama enam bulan, waktu yang bapak miliki untuk mengurusi pemerintahan Metro digunakan sebaik-baiknya. Tidak perlulah saya menulis prestasi atau pencapaian kerja di sini, sebab kami semua bisa mengetahuinya lewat social media pribadi bapak atau akun facebook protokol. Atau bagi yang tidak bermain sosmed bisa mengetahuinya lewat media cetak. Maklum, bapak kerap dibilang sosok yang bersahabat dengan media.

Seperti yang bu camat cantik Metro Pusat ceritakan di acara ngopi bareng Chrisna beberapa hari yang lalu, ketika bapak mengadakan rapat perdana, bapak berpesan bahwa akan membangun Metro lewat media. Menurut saya ini merupakan cara yang efektif. Berinteraksi langsung lewat social media sangat bagus. Terutama bagi kami, anak muda yang terlanjur gaul di era social media. Saya, sebagai representasi anak muda yang sudah terlanjur apatis dengan kinerja pemerintahan, yang selalu mempertanyakan apa sih kerjanya pemimpin kami pada akhirnya tahu lewat social media.

Pernah suatu kali ini kisah nyata, saya berdebat masalah ini dengan teman saya, mempertanyakan apa kerja pemimpin. Kemudian saya beritahu kerja bapak (yang saya ketahui dari akun pribadi bapak) kalo bapak ke sini, kemudian ke sana blablabla. Trus teman saya yang bingung mau balas apa, dengan santainya berujar, “Iya sih yang anak PJ.” Lah, kan saya tahunya dari akun bapak, salah dia yang tidak temenan/mengikuti bapak di sosmed. Aneh. Ah, saya jadi ngalor-ngidul.
Saya sering bertemu dengan bapak di berbagai kesempatan, sifat ramah dan mudah ditemui sudah melekat di gaya kepemimpinan bapak. Sifat yang menurut saya ini penting. Gimana tidak, orang seperti saya yang sebelumnya tidak punya akses menemui pemimpin dapat menemui bapak. Bahkan tidak hanya sekali dua kali.

Bapak yang dekat dengan komunitas.

Sebagai anak muda yang masuk di dalam banyak kegiatan di berbagai komunitas, saya bersyukur. Bapak adalah sosok yang dekat dengan komunitas. Komunikasi yang intens berhasil bapak bangun dengan komunitas yang ada di Metro. Mendengarkan keluh kesah, memfasilitasi serta membantu komunitas agar tetap bertahan dan tumbuh membangun kota lebih kreatif.

Saya ingat betul, ketika komunitas tempat saya dibesarkan, Metro Street mendapatkan perhatian. Di mana di kepemimpinan sebelum bapak belum mendapatkan perhatian. Kami yang pada awalnya bingung tidak adanya tempat bermain, sebentar lagi memiliki tempat bermain yang kami impikan. Skatepark pertama di Lampung yang diinisiasi oleh komunitasnya. Terwujudnya gerakan #WeBuildOurSkatepark tidak lepas dari campur tangan bapak membantu kami. Untuk ini kami sangat berterima kasih. Kami mengharapkan kehadiran bapak di peresmian skatepark nanti.

Bapak yang berani ambil keputusan cepat

Keluh kesah warga adalah keharusan bagi pemerintah untuk mengambil keputusan. Saya sangat terkesan dengan bapak, ketika mengetahui taman pendidikan yang gelap tempat jin buang anak pada malam hari menjadi keresahan warga kini teran. Hanya dalam waktu kurang dari tiga hari setelah bapak perintahkan kepada dinas terkait. Bahkan sekarang sudah ada wifi. Semoga fasilitas ini terus ada, bukan sebulan-dua bulan.

Tidak hanya itu, mungkin banyak keputusan cepat dan tepat yang bapak ambil di mana saya tidak mengetahuinya. Contohnya poin hasil rapat dengan SKPD dan musrenbang.

Well done, sir!

Ketika bapak membaca tulisan ini di dalam mobil menuju pulang ke rumah, yakinlah satu hal: pemimpin bisa saja dilupakan, tapi tidak dengan karya dan usahanya. Enam bulan adalah waktu yang sebentar untuk memimpin suatu kota, namun perubahan yang bapak torehkan tidak akan membuat kami lupa. Selamat pak, anda sudah menjalankan tugas dengan sangat baik, kami sangat puas. Kembalilah memimpin lima tahun lagi jika bapak ingin, saya termasuk makmum yang lantang mengucapkan amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar